Riset dan Produksi Vaksin
12 December 2024
12 Dec Riset dan Produksi Vaksin
Pandemi COVID-19 masih berlangsung. Kita belum tahu kapan pandemi ini akan berakhir. WHO memprediksi vaksin untuk COVID-19 akan tersedia paling cepat tahun 2021. Padahal kini pandemi tengah berlangsung dan makin banyak yang terjangkit. Kami akan sedikit menjelaskan mengenai produksi vaksin secara umum untuk lebih memahami tentang produksi vaksin. Pada umumnya, pembuatan vaksin hingga siap diproduksi secara komersil membutuhkan waktu sampai dengan 30 tahun. Kenapa bisa membutuhkan waktu selama itu?
Pertama kita harus tahu, apa itu vaksin. Vaksin merupakan sediaan biologis yang memicu respon imun tubuh kita sehingga pada saat pathogen masuk ke tubuh kita, kita sudah bisa melawan pathogen ttersebut sehingga tidak menyebabkan sakit. Sediaan biologis ini dapat berupa mikroorganisme hidup yang dilemahkan atau diinaktivasi, toxoid atau senyawa toxic yang sudah diinaktivasi, vaksin subunit atau bagian dari mikroorganisme yang memicu imun respon, dan yang terbaru adalah vaksin dalam bentuk nukleotida.
Tentu saja beda jenis vaksin berbeda juga proses produksi vaksinnya. Kami akan menjelaskan mengenai bagaimana produksi vaksin. Tahapan pembuatan vaksin ini antara lain:
1. Discovery
2. Preclinical Testing
3. Pilot Scale Production
4. Clinical Trial Phase
5. Production
Discovery
Di fase discovery ini, kita mencari bibit antigen yang dapat memicu respon imun. Hal pertama yang kita lakukan adalah melakukan profiling patogen dengan cara Whole Genome Sequencing . Whole Genome Sequencing ini dilakukan dengan teknologi Next generation sequencing untuk mengetahui informasi genetic dari mikroorganisme patogen.
Setelah kita mengetahui informasi genetic dari patogen tersebut, kita bisa mengetahui strain (jenis) patogen yang banyak ada di Indonesia dan memilih beberapa bibit antigen yang potensial menjadi vaksin. Gen penyandi antigen ini kemudian di ekspresikan menggunakan vector. Vector kemudian dimasukan kedalam sel inang dan dikultur dalam cawan petri atau T-Flask untuk memperbanyak vector.
Kultur cell tersebut kemudian dianalisis menggunakan mikroskop untuk melihat kelangsungan hidup host cell dan vector. Setelah itu, protein atau antibody yang dihasilkan masuk ke skrining dan QC untuk melihat berat molekul dan muatan isoelektrik.
Preclinical Testing
Pada proses QC ini juga dilihat bagaimana kompatibilitas antigen kita dengan antibody untuk menghasilkan respon imun, pada proses ini juga dilihat kemurnian protein menggunakan elektroforesis dan ELISA. Setelah lolos QC, antibody yang kita dapat diuji coba ke hewan uji untuk dilihat respon imun hewan dan distribusi vaksin dalam tubuh hewan. Pada tahap ini juga dilakukan uji toksisitas.
Pilot Scale Production
Pada pilot scale production dilakukan produksi untuk menyediakan lebih banyak vaksin untuk fase clinical trial. Pada pilot scale production ini, bibit vaksin yang sudah lolos QC dan preclinical trials diperbanyak di sel inang dalam bioreactor skala menengah. Hasilnya kemudian dipanen dan dipurifikasi menggunakan alat kromatografi protein. Hasil akhir kemudian masuk QC untukdideteksi pengotor dan cemaran mycoplasma.
Vaksin yang telah diuji kemudian masuk ke clinical trial, dimana vaksin ini akan diujikan pada manusia. Ada tiga tahap clinical trial. Tahap pertama vaksin dikenalkan pada manusia dan diujicobakan pada puluhan orang. Pada tahap ini dilakukan uji efektifitas vaksin. Orang-orang ini dibagi menjadi dua grup dan salah satu grup dijadikan kontrol atau tidak mendapatkan vaksin, hanya placebo effect. Group lainnya mendapatkan vaksin dengan konsentrasi yang sama.
Pada tahap kedua, clinical trial dilakukan pada populasi yang lebih besar dengan tujuan untuk menguji imunogenisitas atau kemampuan sebuah antigen memicu respon imun dan toksisitas dari vaksin tertentu untuk mempelajari reaksinya pada populasi yang lebih beragam.
Pada tahap ketiga sama dengan tahap kedua namun pada populasi yang lebih besar lagi dan vaksin harus menunjukan efektifitasnya pada pasien yang memiliki sakit bawaan sebelum diajukan ke regulator administrasi untuk vaksin.
- Rox sebagai Passive Reference Dye, Apa sih Gunanya?
Dalam analisis real-time PCR, passive reference dyes sering digunakan untuk menormalkan sinyal fluoresensi… - Istilah yang wajib dipahami saat melakukan qPCR
Baseline Baseline pada reaksi real-time PCR merujuk pada tingkat sinyal fluoresensi pada siklus… - Mengenal PCR, Teknik Penting di Balik Tes COVID-19 dan Riset Genetik
Apa itu PCR? Bayangkan ada sebuah teknologi kecil yang bekerja diam-diam tetapi punya… - Kualitas Genetik Sel Telur Tetap Terjaga: Studi Penn State Tantang Paradigma Lama Reproduksi Wanita
“Cepat menikah, nanti kalau sudah tua susah punya anak,” Kalimat itu sering didengar… - Polymerase Chain Reaction (PCR) dan Peran Vital Primer dalam Keberhasilannya
Polymerase Chain Reaction (PCR) adalah salah satu inovasi terbesar dalam biologi molekuler, ditemukan…





