3 Strategi Jitu Meminimalkan Bias Efisiensi Reaksi pada Real-Time PCR

3 Strategi Jitu Meminimalkan Bias Efisiensi Reaksi pada Real-Time PCR

Efisiensi reaksi merupakan faktor yang sangat menentukan akurasi data real-time PCR. Dalam kondisi ideal, setiap salinan target dalam reaksi PCR akan teramplifikasi pada setiap siklus, sehingga jumlah molekul target akan berlipat dua. Kondisi ini merepresentasikan efisiensi amplifikasi 100%. Namun, pada praktiknya, variasi efisiensi hampir selalu terjadi dan akan semakin terakumulasi seiring berjalannya siklus termal. Oleh karena itu, deviasi sekecil apa pun dari efisiensi 100% berpotensi menghasilkan data yang bias.

Salah satu strategi utama untuk meminimalkan bias efisiensi adalah dengan mengamplifikasi target yang relatif pendek. Amplifikasi wilayah sepanjang 100 bp jauh lebih mungkin menghasilkan sintesis yang utuh dalam satu siklus dibandingkan dengan target yang panjang, misalnya 1.200 bp. Atas dasar ini, panjang target real-time PCR umumnya berada pada rentang 60–200 bp. Selain itu, amplicon yang lebih pendek juga lebih toleran terhadap degradasi template. Jika sampel asam nukleat yang mengalami degradasi ringan, target yang panjang memiliki risiko lebih besar karena primer hulu dan hilir mungkin tidak lagi menemukan sekuens komplementer pada fragmen DNA yang sama.

Kandungan GC pada amplicon serta pembentukan struktur sekunder juga dapat menjadi sumber ketidakakuratan data. Sintesis target yang tidak sempurna pada setiap siklus lebih mungkin terjadi apabila struktur sekunder menghambat pergerakan DNA polimerase. Idealnya, primer dirancang untuk berikatan dan mengamplifikasi wilayah dengan kandungan GC sedang (sekitar 50%) dan tanpa bentangan GC yang panjang.Untuk amplifikasi cDNA, amplicon sebaiknya dirancang mendekati ujung 3’ dari transkrip. Hal ini karena pada beberapa RNA, struktur sekunder dapat menghambat proses sintesis cDNA sehingga tidak semua transkrip berhasil disalin secara penuh. Dengan menempatkan target amplifikasi di dekat ujung 3’, kemungkinan target tersebut tetap terwakili dalam cDNA menjadi lebih tinggi, sehingga hasil amplifikasi lebih konsisten dan akurat.

Gambar 1. Molekul RNA dengan tingkat struktur sekunder yang tinggi